Sikap-sikap Ritual: Kultus Negatif dan Larangannya - Emile Durkheim



Dalam sistem yang dibentuk oleh ritual ada domain yang penting, yakni disebutkan bahwa makhluk-makhluk yang bersifat Kudus atau suci adalah makhluk-makhluk yang terpisah, dimana ada kesinambungan antara makhluk-makhluk yang dianggap suci tersebut dengan makhluk-makhluk yang profan. Selain adanya larangan yang berkaitan dengan agama, ada juga larangan yang berkaitan dengan manusia atau menyangkut ilmu sihir atau ilmu gaib. Larangan agama memiliki satu karakteristik umum, yakni datang bukan dari fakta bahwa beberapa hal dianggap suci dan yang lain tidak, melainkan ada kesenjangan antara hal-hal suci tertentu sehingga tidak mengusik ide-ide tentang kesucian. Ada keyakinan bagi orang dewasa yang telah inisiasi dan dianugerahkan karakter yang suci pada mereka. Darah yang mengalir selama inisiasi dianggap memiliki kebajikan keagamaan, hal tersebut juga sama dengan rambut. Selain itu orang yang telah mati dalam keadaan suci, tempat dimana kematian terjadi harus dihindari, karena mereka percaya bahwa jiwa manusia yang telah mati akan menghantui tempat-tempat tertentu.

Dapat diketahui bahwa kontak yang dianggap sangat penting adalah akibat dari penyerapan makanan, oleh karena itu ada larangan ketika memakan binatang ataupun sayuran tertentu, terutama bagi mereka yang meyakini Totem. Tindakan tersebut mayoritas muncul pada laki-laki dewasa untuk mencapai martabat keagamaan. Larangan ini dijelaskan oleh kekerabatan mitos yang menyatukan pria dengan hewan: mereka dilindungi oleh sentiment simpati dan berasa pada posisi sebagai kerabat. Dengan demikian sering ada hewan khusus yang ditunjuk sebagai makanan bagi kaum perempuan, karena mereka percaya bahwa hewan tersebut mengambil sifat feminin dan akibatnya profan.

Ada keyakinan mengenai Arunta, yakni wajib adanya saat-saat keheningan dalam upacara, dan juga Wollunqua. Selama berkabung, nama orang mati tidak boleh disebutkan, setidaknya oleh orang tuanya, kecuali adanya kebutuhan mutlak. Larangan ini sering bersifat abadi bagi janda dan kerabat tertentu. Semua individu yang namanya sama seperti orang yangmati tersebut harus mengubahnya untuk semetara. Awal dari bahasa yang suci yakni adanya bahasa khusus yang digunakan untuk tujuan yang profan bagi upacara-upacara tertentu.

Demikian juga, kehidupan beragama dan kehidupan profan tidak berdampingan dalam unit waktu yang sama. Hal ini diperlukan untuk menetapkan hari-hari atau periode pertama. Dapat diketahui bahwa kultus negatif berfungsi untuk menghambat aktivitas, dan tidak untuk memodifikasi. Pada kenyataannya, karena penghalang yang memisahkan yang suci dari yang profan, seorang pria tidak bisa masuk ke dalam hubungan intim dengan hal-hal Kudus atau suci kecuali setelah membersihkan diri dari segala yang profan yang ada di dalam dirinya. Dia tidak bisa menjalani kehidupan keagamaan bahkan memiliki intensitas yang terbatas jika ia benar-benar menarik diri dari kehidupan duniawi. Jadi kultus negatif dalam satu pengertian adalah sarana dalam mengakhiri: yakni suatu kondisi akses yang mengarah ke kultus positif. Tidak ada yang dapat terlibat dalam upacara keagamaan tanpa menyerahkan dirinya untuk semacam inisiasi awal yang memperkenalkan dirinya secara progresif ke dalam dunia yang dianggap Suci.

Achmad Migy Pratama Wicaksono
Achmad Migy Pratama Wicaksono Saya seorang amatiran yang sotoy tapi baik

No comments for "Sikap-sikap Ritual: Kultus Negatif dan Larangannya - Emile Durkheim"